Featured Post
BELAJAR MEMIMPIN
Perempuan jadi pemimpin? Gak masalah tuh! Meskipun sebagian orang masih memperdebatkan tentang kepemimpinan perempuan, tapi toh kenyataan dalam keseharian banyak kita temukan perempuan-perempuan yang menjadi bos alias pemimpin. Dalam buku yang berjudul Jangan menyesal menjadi wanita, Yusuf Qardhawi mengatakan tidak masalah jika perempuan menjadi direktur, kepala bagian, pimpinan yayasan, menjadi anggota DPR, menteri atau jabatan lainnya. Hal ini sah-sah saja asal membawa kebaikan. Namun untuk menduduki jabatan khilafah, masih perlu dipertimbangkan.
Menurut saya, baik laki-laki atau perempuan yang menjadi pemimpin, tuntutan tanggung jawabnya tetap sama.Perlu pengorbanan, ketulusan,dan bijak dalam meyikapi masalah. Bagi perempuan, tentu tanggung jawabnya harus diseimbangkan dengan tugas utamanya dalam keluarga.
Adalah sebuah ketidak sengajaan dan tanpa permintaaan pada siapapun saya pernah dipercayakan menjadi pimpinan sebuah lembaga pendidikan (Lembaga Bantuan Belajar) cukup ternama di Banda Aceh. Jabatan sebagai Kepala Cabang cukup membuat beberapa malam setelah penguman saya terpilih, saya gak bisa tidur nyenyak karena khawatir. Bagaimana tidak, saya harus memimpin lembaga dengan 500-an siswa, belum ditambah staf pengajar dan karyawan lainnya. Sementara saya belum punya pengalaman manajemen mengelola lembaga sebelumnya. Oh…mampukah saya? Begitulah pikiran yang sering menghantui benak saya.
Saya menganggap diri saya tidak mampu koq malah dipilih dan dipercayakan pegang amanah sebagai kepala cabang. Apa gak salah pilih nih teman-teman? Saya masih terus mempertanyakannya .Tapi semua itu telah terjadi. Saya dipilih dan dipercaya oleh teman-teman saya. Dan pemilik lembaga, yang juga dosen saya di kampus MIPA juga selalu memberi motivasi bahwa saya mampu. Akhirnya saya bertawakkal saja pada Allah.Ini pemberianNya, saya harus terima. Apapun yang diberikanNya untuk setiap hamba-Nya, pastilah yang terbaik dan punya maksud mendidik sang hamba. Sayapun berkesimpulan, taqdir menjadi pemimpin ini adalah proses belajar saya dari sekolah kehidupan Dan saya sudah harus siap mengahdapi ujian apapun yang terjadi nantinya saat menjadi pemimpin.
Benar adanya, ternyata dalam menjalankan amanah sebagai pemimipin banyak ujian yang harus dilalui. Terutama ujian kesabaran dalam menghadapi masalah yang terjadi terhadap apapun dan siapapun. Apakah itu berkaitan dengan staf pengajar, manajemen lembaga atau terkait pelayanan terhadap pelanggan lembaga kami yaitu siswa, terutama orang tua dari siswa.
Suatu waktu pernah ada orang tua siswa yang datang menemui staf administrasi lembaga. Ia komplain terhadap kebijakan lembaga yang memberikan sangsi atau denda bagi siswa yang menunggak iuran bulanan.
“Memangnya ini PLN ? Pake denda-denda segala! Inikan lembaga pendidikan. Saya tidak terima! Saya tidak mau anak saya les di sini lagi!” Ujar sang bapak yang berseragam tentara, penuh nada emosi plus ancaman menarik dua orang anaknya untuk tidak ikut les di lembaga kami.
Dari ruang pustaka, yang hanya berjarak sekitar lima meter dari meja front office sayup-sayup saya dapat mendengar pembicaraan antara staf administrasi saya‑‑Lela dengan bapak tentara tersebut. Saya mendengar, Lela berusaha menjelaskan dengan penuh kesabaran dan suara yang merendah. Namun sayang, ternyata sang bapak tentara tetap tidak bisa terima dan meminta Lela memanggil pimpinan lembaga. Lelapun menyerah dan meminta si bapak tentara bersabar menunggu sebentar karena ia akan segera mempertemukan beliau dengan pimpinan lembaga, sang Kepala cabang. Bergegas Lela menemui saya yang sedang membaca koran di ruang perpustakaan lembaga.
Ah!saya harus turun tangan juga, mampu gak ya menghadapi si bapak tentara yang lagi emosi itu? Tentara lagi, biasanya tentarakan suaranya keras, bakalan kalah nih suara diriku yang bervolume kecil. Lirih saya dalam hati sesaat setelah Lela menemui saya dan menceritakan apa yang terjadi. What ever happen lah, insya Allah saya bisa! Bismillahitawakkaltu 'alallah, saya berdoa dan mantap melangkah..
Dengan memasang tampang seramah mungkin, sayapun beranjak menemui sang bapak tentara. Menyapanya dengan penuh santun, dan segera memulai pembicaraan dengan berkata “ Maaf Pak! Ada yang bisa saya bantu?”
Wajah bapak tentara masih tak ramah, pun tampak bingung dengan kehadiran saya. Lalu saya mengajak sang bapak tentara berpindah duduk di kursi lain, tidak di depan meja kerjanya Lela lagi ,meja front office. Saya mengulangi kembali perkataan “Maaf pak! Ada yang bisa saya bantu?” Dengan tatapan heran kepada saya, lalu sang bapak tentarapun mengatakan jika ia sangat berkeinginan bertemu dengan pimpinan lembaga untuk meminta klarifikasi atas permasalahannya.
Saya tetap tersenyum ramah, dan mengatakan kepada beliau bahwa saya adalah pimpinan lembaga. Wajah sang bapak tentara masih belum ramah namun mulailah ia menjelaskan duduk permasalahnya kepada saya bla…bla…bla…sampai terakhir ia menutup ceritanya dengan pernyataan “Tolong pertemukan saya dengan pimpinan lembaga ini!” Nadanya masih ketus.
Oh…my Godness! Berarti pengakuan saya tadi sebagai pimpinan lembaga, masih belum bisa diterima oleh si bapak ? Apa yang salah dengan saya? Apa karena saya seorang perempuan atau karena tampilan saya yang lebih mirip mahasiswa daripada sebagai seorang kepala cabang? Atau saya masih dianggap terlalu muda jadi pemimpin? Ah! Kayak di iklan saja “yang muda yang gak dipercaya”.Dan kejadian ini bukanlah hal yang pertama bagi saya ketika ada orang tua siswa tidak percaya kalau saya adalah kepala cabang dari lembaga yang saya pimpin. Pernah saya bahkan nyaris menunjukkaan KTP kepada orang tua siswa yang meminta dipertemukan dengan pimpinan lembaga untuk membuktikan bahwa nama saya sesuai dengan nama Kepala Cabang yang dicantumkan di lembaran struktur kelembagaan yang ditempel di dinding dekat meja front office. Apa kepada bapak tentara ini saya harus menunjukkan KTP lagi ya? Itulah pikiran yang terlintas di benak saya. Sayapun sudah menyiapkan KTP.
Saya masih tersenyum ramah kepada si bapak tentara ketika beliau mengulangi kembali kata-katanya bahwa ia ingin menemui pimpinan lembaga. Dan sayapun kembali mengulangi pernyataan kalau saya adalah kepala cabang dan sayalah orang yang beliau maksud pimpinan tinggi lembaga. Tidak cukup sekedar pengakuan sebagai pemimpin, saya memulai pembicaraan dengan gaya seorang pemimpin, penuh nada santun dan mencoba lebih bijak. Saya mencoba menjelaskan kepada beliau alasan-alasan mengapa keputusan denda bagi penunggak iuran di tetapkan. Denda yang ditetapkan juga tidaklah terlalu tinggi, hanya penambahan sekitar Rp.1000-3000 dari biaya dasar iuran wajibnya.
“Sebenarnya Pak, tiga bulan lalu, sebelum kebijakan denda ini ditetapkan, kami dari lembaga sudah melakukan sosialisasi masalah denda ini melalui surat pemberitahuan kepada orang tua siswa dan surat tersebut kami titipkan pada masing-masing siswa. Apa bapak pernah mendapat suratnya?” Saya kembali bertanya kepada si bapak.
“Oh…saya belum mendapat suratanya Bu! Saya gak tau!” Jawab si bapak tentara dengan tegas, namun nada bicaranya sudah mereda tak setinggi sebelumnya. Beliaupun sudah mulai memanggil saya dengan sebutan Bu. Hati saya mulai senang juga,ketika si bapak mulai menyapa saya dengan kata Bu. Itu artinya beliau mulai mengakui saya sebagai pemimpin lembaga yang diinginkan untuk bertemu guna meluruskan masalahnya.Sebelumnya tak ada kata sapaan apapun untuk saya.
Lalu saya beranjak dari tempat duduk untuk mengambil arsip surat pemberitahuan pada Lela yang sedang melayani tamu lainnya di meja front office. Surat itu, saya tunjukkan kepada beliau. Mulailah saya kembali mencoba menjelaskan dengan tenang alasan kebijakan pemberlakuan denda. Diantara alasannya adalah, tingginya tunggakan iuran siswa sehingga memengaruhi operasional lembaga.. Sementara selain kegiatan belajar mengajar (les) lembaga juga tetap melaksanakan kegiatan yang bersifat sosial. Dan tidak ingin kegiatan tersebut terhenti. Padahal dari pihak lembaga telah berupaya sebaik mungkin meyampaikan masalah penunggakan tersebut dengan cara yang santn baik langsung ata melalui telepon kepada mereka yang bermasalah. Harapan saya penjelasan tersebut bisa beliau terima dengan lapang dada sehingga beliau tidak perlu marah-marah lagi. Setelah mendengar penjelasan saya, tampak otot-otot di wajah bapak tentara tersebut mulai relaksasi, tidak tegang lagi. Dan mulai menghadirkan seulas senyum. Ternyata volme suara rendah yang saya miliki dan wajah yang selalu tersenyum, meski dada deg-degan juga, mampu mempengarhi pikiran sang bapak.
“O….jadi itu ya Bu masalahnya! Bu! Ibu bilang sama saya saja, siapa yang menunggak iuran. Lillahi ta’ala Bu! Saya rela membantu ibu untuk menagih kepada mereka yang menunggak. Kita bisa ke rumah-rumah mereka yang gak mau bayar Bu!. Lillahi ta’ala Bu, saya rela datang ke rumah mereka!” Ucap sang bapak penuh semangat sambil tangan kanannya diletakkan di dadanya seakan ingin menunjukkan keikhlasan hatinya untuk membantu .
Lho! Saya jadi kaget mendengar pernyatan si bapak tentara. Koq jadi berbalik 180 derajat begini? Bagaimana tidak kata lillahi ta’ala rela membantu saya, diulang-ulangnya beberapa kali. Bukannya tadi ia marah-marah dan mengancam menarik dua orang anaknya dari lembaga kami? Subhanallah, gampang betul Allah membolak-balikkan hati seseorang dalam sekejap.
Saya kembali tersenyum, kali ini senyum saya tambah mekar karena pernyataan si bapak yang mendukung kebijakan yang saya tetapkan. Lalu kembali dengan tenang mengucapkan terimaksaih atas kesediaan beliau membantu lembaga menagih hutang para pennggak.Namun saya mejelaskan pada beliau bahwa saya tidak akan mengambil kebijakan menagih ke rumah para penunggak biaya iuran. Karena menurut saya tidaklah etis lembaga pendidikan melakukan hal tersebut.
“Biasanya kami cenderung mengikhlaskan saja Pak, jika ada yang sudah berbulan-bulan gak bayar lalu raib gak les lagi di tempat kami” Ucap saya penuh percaya diri dan masih tetap berusaha meyakinkan niat baik lembaga kepada sang bapak tentara.
Mengingat waktu yang sudah cukup untuk menjelaskan segala masalah yang dikomplain oleh bapak tentara tersebut, saya pun mencoba memastikan kembali apakah beliau bisa menerima penjelasan saya dan mencoba memanggil Lela, agar membawakan surat pemberitahuan yang masih tersisa untuk diserahkan kepada si bapak tentara agar beliau bisa membaca ulang isinya supaya lebih jelas. Saya juga menegaskan jika memang beliau belum bisa menerima keputusan lembaga, lalu menarik anakknya dari lembaga kami, saya tetap menghargai keputusan beliau. Dan saya juga mengatakan bahwa saya belum bisa merubah kebijakan denda tersebut.
“O..gak apa-apa Bu! Saya gak perlu lagi suratnya. Ini saya mau menyelesaikan iuran anak saya, berapa tunggakan anak saya Bu? Beliau berkata sambil tersenyum ramah.
Saya pun lalu mengantarkan beliau ke meja kerjanya Lela untuk menyelesaikan segala urusannya. Dan tak lupa pula, saya kembali mengucapkan terimakasih atas kepercayaan yang beliau berikan kepada lembaga kami untuk membantu mendidik anaknya. Alhamdulillah, akhirnya masalah dapat terselesaikan dengan happy ending.
Pengalaman di atas tentu mengajarkan kepada saya, bahwa kepercayaan diri dengan menyandarkan segala sesuatunya kepada Allah itu penting. Percaya bahwa setiap kesusahan ada kemudahan, Allah tidak memberikan suatu beban jika kita memang tidak sanggup. Meskipun ada beban dan tanggung jawab sebagai pemimpin,maka tempat kita bersandar hanya Allah. Sehinnga ketika pasrah pada-Nya, akan diberikan jalan kemudahan untuk menyelesaikan masalah, sesulit apapun itu.
Sebaiknya, kita juga jangan buru-buru menolak setiap amanah yang diberikan kepada kita dengan alasan kita tidak mampu, padahal kita belum mencoba. Tidak ada salahnya mencoba. Wajar jika kita khawatir akan kegagalan, tapi bukankah kegagalan menjadi guru yang paling berharga untuk sebuah kesuksesan? Yang harus kita lakukan adalah tetap berusaha seoptimal mungkin dengan tetap bertawakkal pada-Nya. Sebagaimana firman Allah dalam QS. 65: 3
Pelajaran lain yang saya ambil dari kejadian di atas adalah, bahwa tetaplah tenang, jangan panik dalam menghadapi apapun. Mengendalikan emosi dengan terus memperbanyak zikir. Karena dengan berzikir hati akan tenang. Seemosi apapun lawan bicara kita,jika kita tetap bisa tenang dan berbicara dengan nada yang santun, akan meredakan puncak ketegangan emosinya. Kata orang bijak, jangan pernah melawan api dengan api. Tapi lawanlah api dengan air. Maka Api itu akan padam.
Komentar
Posting Komentar