Tetanggaku Saudaraku
Saya tidak ingat, tanggal berapa tepatnya kejadian ini terjadi. Yang saya ingat saat itu adalah bulan puasa tahun 2009. Puasa ke berapapun, saya lupa mencatatnya. Yang jelas awal puasa.
Siang itu ba’da zuhur, sekitar pukul 13.30 langit mulai gelap dan angin pun beraksi menampilkan kekuatanya. Kekuatan super, layaknya akan ada badai. Di Rumcay markas FLP, yang kebetulan berada dibagian samping rumah saya, hanya ada Nuril yang usai salat zuhur, memulai tilawahnya sambil menunggu waktu bersiap menuju kampus. Dari jendela kamar saya berusaha menjenguk ke luar rumah. Pohon mangga yang tepat berada di depan jendela kamar, terlihat mulai meliuk-liuk kuat diterpa angin yang sedang beraksi.
Firasat saya, pohon mangga yang enggan berbuah namun rimbun dengan dedaunan itu, tampaknya gak bakalan kuat menahan terpaan angin yang amat kuat siang itu. Oh… Tuhan, bagaimana kalau pohon mangga itu tumbang? Tak ada lagi kebanggaan kami, dan tak ada lagi bahan rujak gratis untuk rujak party ala FLP. Bisikan dari dalam hati, mulai memenuhi sel-sel saraf saya.
Khawatir, tentu saja. Namun saya berusaha tenang dan berdoa “ Ya Allah, selamatkan pohon mangga kami dari terpaan badai ini” Lalu mencoba merebahkan diri di tempat tidur untuk sekedar melepas lelah usai beraktifitas setengah harian di luar rumah. Dan berharap segala sesuatunya akan aman dan terkendali.
Belum pun sempat memejamkan mata, tiba-tiba terdengar suara seorang perempuan memberi salam, arah suaranya datang dari Rumcay. Sepertinya perempuan itu memberiahukan sesuatu yang telah terjadi pada pohon mangga kepada Nuril yang sedang khusyuk tilawah di Rumcay.
Langsung saya beranjak dari tempat tidur dan menjenguk ke luar melalui jendela “Astaghfirullah!” ternyata oh ternyata…pohon mangga itu, nyaris membentuk kemringan dengan sudut 180° dari posisi lazimnya pohon berdiri, namun karena tertahan oleh pagar tembok dengan tinggi sekitar 130cm, akhirnya hanya membuat kemiringan dengan membentuk sudut 45 °.
Lalu saya mencoba menemui Nuril, penerima berita pertama tentang robohnya pohon mangga kami. Tanpa banyak diskusi, saya dan Nuril langsung menuju ke TKP.
Dapat dipastikan, pohon mangga yang tingginya hanya sekitar 10 meter itu dan berada di tepi jalan, meskipun tak rebah sempurna di atas tanah, namun ranting pohon yang disesaki rerimbunan daun nyaris menghadang badan jalan kompleks perumahan Sentosa Tungkop, yang memiliki lebar jalan tak sampai dua meter. Dijamin! jika ada mobil atau sepeda motor yang mau lewat, pasti gak bisa. Karena disesaki oleh ranting-ranting yang dipenuhi daun mangga. Namun jika hanya pejalan kaki, masih bisa lewat sih.
Gerimis mulai turun, saya dan Nuril berusaha mengatasi kondisi tragis itu. Nuril menyarankan agar saya mencari parang. Sehingga ia bisa menebas ranting-ranting pohon mangga tersebut. Sayangnya, parang di rumah saya tak bernyali lagi alias tumpul dan dapat dipastikan bakalan sulit membereskan tumpukan ranting-ranting tersebut. So, akhirnya saya berinisiatif meminjam ke tetangga sebelah rumah, rumah bunda Dek Ta.
Saat mengutarakan maksud kedatangan saya pada bunda Dek Ta adalah untuk meminjam parang guna mengatasi ranting pohon mangga yang menyesaki jalan, beliau kaget, segera saja beliau mengambilkan parang dan turut ke luar rumah ingin menyaksikan kondisi sebenarnya. Ups! Ternyata parang yang dipinjamkan bunda, tak jauh beda nasibnya dengan parang di rumah saya. Mengharap pada tetangga yang lainpun, tak ada jaminan mereka punya parang. Oh…susahnya mencari parang zaman sekarang!
“Kayaknya, kesulitan menemukan parang di rumah-rumah keluarga masyarakat Aceh sekarang, bisa dijadikan judul cerpen ya kak Mar” ujar Nuril yang naluri penulisnya menemukan ide disetiap moment. Lalu kamipun tertawa kecil, meskipun tugas belum selesai.
Apapun kondisi parang yang ada, saya dan Nuril tetap bertekad penuh semangat membereskan semak ranting mangga di jalanan kompleks, korban keganasan angin siang itu. Namun, bunda dek Ta tak tega melihat kami berdua, perempuan-perempuan yang mungkin dianggap tak perkasa karena postur tubuh yang tak seberapa ini, membereskan tumpukan semak tersebut. Bunda dek Ta, lalu meminta suaminya agar menolong kami. Dan suaminya pun, yang biasa kami panggil ayah (maksudnya ayah dek ta) meminta parang yang ada di tangan saya lalu mulai menebas ranting-ranting yang mudah di jangkaunya. Alhamdulillah, pertolongan Allah datang.
Ayah dek Ta mencoba menebaskan parangnya di beberapa ranting yang tak sempurna patahnya, masih melekat di pohon. Sementara saya dan Nuril mencoba membereskan ranting-ranting yang berserakan di jalan sambil bercerita dan sesekali diselingi tawa, menikmati nasib kami hari itu.
Tak Lama kemudian, pintu rumah Bu Ani, tetangga di depan rumah saya, mulai terbuka. Lalu, Yah Mi (panggilan untuk suami Bu Ani) keluar, menanyakan kepada saya apa yang terjadi. Dan tidak berapa lama kemudian, Yah Mi pun segera berpartisipasi untuk membantu. Ayah dek Ta sepertinya mulai lelah, menebas ranting-ranting yang patah, maklumlah bulan puasa, siang bolong lagi! Beliau mulai berhenti dan digantikan oleh Yah Mi. Tak tangung-tangung, Yah Mi rela memanjat tembok pagar untuk menebas ranting-ranting pohon yang dianggap rawan dan berpotensi patah lagi. Namun masih menyisakan beberapa ranting untuk keberlangsngan hidup pohon mangga tersebut. Dengan harapan pohon mangga yang masih berdiri meskipun miring karena masih ada tembok pagar sebagai penopangnya, masih bisa hidup dan produktif lagi.Menghasilkan buah, dan bisa dinikmati.
Walhasil, semak ranting dan dedaunan di jalan bukan kian berkurang tapi bertambah karena beberapa dahan yang tak patahpun dipangkas. Tapi, sukurnya, Yah Mi membantu kami sampai tuntas. Bahkan beliau bersedia mengangkut tumpukan sampah ranting itu dengan mobil bak terbuka miliknya untuk dibawa ke tempat pembuangan sampah. Tidak di tumpuk-tumpuk di halaman rumah untuk menunggu kering, lalu dibakar. Tapi saya menolak, karena saya tidak ingin merepotkan beliau lebih jauh lagi. Kasihan. Sudah dibantu memangkas ranting pohon saja sudah sukur.
Terakhir, dengan bantuan teman dan tetangga yang baik hati,berhasillah saya menghalau ranting mangga yang menghadang jalan kompleks. Sebagian kecil sampah ranting mangga itu saya tumpuk di pinggir jalan dan sisanya saya bawa masuk ke halaman rumah. Saya berniat membiarkan tumpukan itu sampai kering lalu dibakar. Namun perlu kesabaran yang lebih untuk melenyapkan tumpukan daun itu dari permukaan tanah karena lagi musim hujan dan tumpukannya lumayan tinggi. Oh…kapan keringnya? kapan bisa dibakar?
Sebenarnya bisa saja, sampah daun mangga tersebut dimanfaatkan untuk buat pupuk organik, tapi saya memang lagi malas jadi berdalih tidak sempat dan susah cari bibit bakteri untuk inisiatornya, maka saya biarkan saja sampah itu mengering meskipun harus menunggu waktu lama. Untuk kemudian saya akan bakar atau sebagian saya benamkan dalam tanah jika sampah dan tersebut sudah mengering.
Dan saya bersukur kembali, karena ternyata saya tidak harus menunggu lama memusnahkan gunungan sampah dedaunan tersebut. Kembali tetangga saya yang baik hati itu, membantu saya. Ayah Dek Ta, hampir tiap hari membakar tumpukan sampah dedaunan mangga tersebut tanpa saya minta.
Subhanallah, Allah memberikan tetangga yang baik hati. Saya merasakan, bahwa tetangga saya adalah saudara saya. Mereka sering sekali membantu saya dan keluarga, bayangkan saja, bunda dek Ta pernah pada saat bulan puasa memberikan pinjaman rice cooker untuk kami selama sebulan. Beliau tahu jika kami tak punya rice cooker sementara beliau punya dua buah. Namun memberikan pinjaman selama sebulan dengan alasan beliau katakan supaya saya tidak repot memanaskan nasi saat bangun sahur, bukanlah hal yang biasa bagi saya. Tidak semua orang mau melakukan hal tersebut.
Pada kesempatan lain, saat mudik lebaran, Yah Mi mau menyirami bunga-bunga dalam pot rumah saya agar tidak kekeringan karena ditinggal yang empunya. Menggantikan bola lampu teras rumah saya yang putus pun, pernah dilakukan Dek Salman dan Dek Mun (abangnya Dek Ta). Sementara saat itu saya sekeluarga juga sedang mudik lebaran. Mereka gak tega melihat rumah kami dalam kondisi gelap sehingga menarik perhatian maling untuk berkunjung. Padahal saya, tidak pernah meminta mereka untuk melakukan itu semua.
Saya pun terbiasa dengan anak-anak tetangga yang terkadang hampir seharian bertandang di rumah untuk sekedar bermain, menggambar atau membaca buku di Rumcay. Saya juga terbiasa, membawakan oleh-oleh setiap kali balik dari kampung halaman untuk para tetangga. Meskipun kadang hanya sebungkus terasi atau keripik Sare. Tetangga saya juga melakukan hal yang sama, berbagi oleh-oleh atau masakan keluarga mereka . Memang,jika kita memuliakan orang lain, maka oarng lainpun akan memulikan kita.
Itulah kehidupan bertetangga yang saya rasakan, selama saya dan adik-adik, tinggal di kompleks perumahan sentosa Tungkop, kami merasa tetangga kami ibarat keluarga kami juga. Jika ada statements tetanggaku idolaku, maka saya akan mengatakan “Tetanggaku , saudaraku”
Komentar
Posting Komentar