MEMANTASKAN DIRI
“Jika orang sepertimu tak pantas, lalu orang yang kayak mana lagi pantas
jadi guru Mar?” Saya masih ingat dengan pertanyaan seorang teman pada saya beberapa tahun lalu, ketika saya masih
berwara-wiri dengan ragam aktifitas saat masih di Banda Aceh usai lulus kuliah.
Yah, saya memang merasa tak pantas menjadi guru. Bagi saya, guru itu adalah
sosok yang mengagumkan dan menjadi
teladan bagi yang lainnya. Saya, merasa belum pantas seperti sosok guru dalam
pikiran saya. Itu sebabnya ketika teman-teman mengambil kuliah Akta IV setelah meraih gelar Sarjana Sains, saya tidak
mau ikut-ikutan. Apalagi saat
mendengarkan bagaimana kuliah mereka, oh…no…no…no….
Menurut saya kalau
memang mau jadi guru, kenapa harus kuliah di FMIPA dari awal seharusnya milih FKIP dong. Jadi gak
perlu saban hari repot dengan tak..tik..tuk mesin tik sampai larut malam demi menyelesaikan laporan praktikum
atau bergadang sampai jelang fajar demi
mewarnai jaringan-jaringan hewan
yang sekali praktik dapat tugas lima gambar terus harus diperbaiki lagi dan lagi. Belum
lagi hari Minggupun bisa tiada libur
demi praktikum (padahal Minggu itu hari
nyuci dan nyetrikan nasional J)
Oh…sungguh, tidak mau jadi guru, dari awal niat saya kuliah di FMIPA bukan di
FKIP. Tapi… pada akhirnya, ternyata toh
saya menjadi guru juga, seperti teman-teman lainnya. Apa karena tak bisa
mendapat pekerjaan lain selain guru?
Begini ceritanya…boleh
dikatakan saya sangat mencintai almamater saya, FMIPA (sangkin cintanya saya
telat selesai ha…ha…ya kan Nani J) Bagi saya,
kuliah di FMIPA itu berbeda, mengenal alam
melalui praktikum yang dijalankan semakin melembutkan hati untuk
mendekati-Nya. Cara berpikir orang- orang FMIPA rasanya juga beda, saya melihat
dosen-dosen yang berpenampilan sederhana tak jauh beda dengan mahasiswa
dan saat mereka menyampaikan ilmu sungguh
tampak kecerdasannya tanpa lupa mengajak
kami mahasiswa untuk semakin dekat dengan pencipta. Sungguh membuat saya kagum.
Bagi seorang anak kampung yang berasal dari daerah
seperti saya ini melihat
lingkungan kampus yang sedemikian rupa bikin jatuh hati dan ingin seperti mereka, menjadi
peneliti yang cinta dan takut pada Ilahi (sejak kelas tiga SMA saya sudah mulai
ikutan ROHIS jadi ya …harap maklum). Sungguh indah rasanya berada dalam laboratorium
meneliti ini itu sembari melihat rahasia dibalik ciptaan-Nya. Itu sebabnya,
rasanya saya tak ingin pindah ke lain hati tetap ingin memjadi peneliti.
Namun, bagi orang tua
saya (mungkin seperti kebanyakan ortu di Aceh lainnya) seharusnya saya
mendapatkan pekerjaan yang layak dan yang layak itu menurut mereka adalah PNS.
Meskipun bagi saya PNS itu bukan segala-galanya tapi bagaimanapun orang tua sudah mneyekolahkan saya tentu
wajar mereka ingin melihat saya mendapatkan pekerjaan yang layak dan pantas
menurut mereka. Bukan saya tak teringin menjadi PNS tapi tiap kali ada penerimaan PNS, formasi Sarjana
Sains cukup langka. Hanya satu atau dua orang
saja pada daerah tertentu.
Hampir tiap tahun, jika
ada permintaan lulusan FMIPA Biologi di pemerintahan saya selalu mencoba, tapi
selalu aja kelewatan alias tidak lulus. Sementara banyak teman yang telah mengantongi ijazah Akta satu persatu mereka diterima menjadi guru di
berbagai tempat. Saya masih meneguhkan hati saya untuk tetap konsisten dengan
ijazah saya, sambil cari-cari kesempatan melanjutkan jenjang pendidikan. Sampai suatu saat mungkin ortu saya sudah
bosan, karena saya tak pernah lulus akhirnya pada saat IAIN Ar Raniry membuka
kelas AKTA IV, saya didaftarkan oleh kakak saya yang kebetulan juga salah satu
staf pengajar di kampus tersebut. Mau tak mau, saya jalani juga.
Setiap hari usai zuhur
saya mempersiapkan diri belajar ilmu pendidikan di Fakultas Tarbiyah untuk mendapatkan ijazah
AKTA IV. Asyik juga ternyata, selain mendapat kawan baru (ada yang dari
Surabaya, kebetulan ikut suami dinas di Aceh) tambah ilmu juga. Dosen pengajar
yang disiapkan fakultas juga bukan abal-abal, karena menurut salah satu dosen pernah
menyampaikan kepada kami di ruang kelas bahwa peserta kuliah AKTA IV ini adalah lulusan S1. Itu artinya dosennya harus mengajar seperti di level Pasca Sarjana. Setelah perkuliahan
selesai, mulailah praktik mengajar tugas PPL. Sampai akhirnya selesailah sudah
dan tak lama kemudian dapatlah saya ijazah AKTA IV (saya punya dua ijazah dari dua
universitas yang menjadi jantong hate rakyat
Aceh, Sarjana Sains dari Unsyiah dan Akta IV dari IAIN J)
Tak lama usai ijazah di
dapat datanglah kabar rekrutmen PNS dibuka. Jujur, saat itu saya masih belum
ingin pindah ke lain hati, saya masih ingin menggunakan ijazah dari FMIPA
saja. Saat seorang teman yang sedang menimba ilmu di tanah Jawa memberi
info terbuka peluang di Dinkes, mulailah saya mencoba mengadu nasib, siapa tau
bisa menjadi pegawai di Dinkes. Namun takdir Allah berkata lain, jangannkan ujian diawalpun saya sudah gagal
dalam pemberkasan administrasi. Semua karena kesalahan pribadi, saat mendaftar online, sudah saya upayakan agar tiada
kesalahan pengisian data tapi apalah daya kesalahan datapun terjadi ( terdata
sebagi jurusan Kimia padahal saya jurusan Biologi J.
Jujur saya kecewa saat itu, kenapa bisa terjadi
seperti itu. Padahal saya sudah membacanya berulang-ulang sebelum print, tapi ternyata…yah…begitulah.Lalu
penyesalan dengan berandai-andai mulai hadir dalam pikiran. Oh… jika saja saat itu tidak buru-buru dan saya tidak
memutuskan ikut ke DPRA bertemu para anggota dewan di DPRA untuk audiensi proposal dan saya menunda
pendaftaran sampai besok tidak pada hari
itu, mungkin tidak terjadi kesalahan ini. Apa hendak dikata, semua sudah usai.
Saya hanya bisa mengambil ibrah dari sikap buru-buru dan kecerobohan saya.
Akhirnya saya
memutuskan untuk ikut tes PNS di tanah kelahiran. Lalu berkas lamaranpun saya
masukkan pada dua formasi jabatan yang
berbeda, sebagai guru biologi dan instansi lain di Pemda (saya lupa, kalo gak
salah BKSDA) Pendaftaran di satu lokasi tapi loket yang berbeda dan sayapun
mempersiapkan dua berkas lamaran, satu berkas berisi ijazah dari MIPA dan
satunya lagi, ijazah MIPA plus akta IV. Meskipun sadar pada akhirnya saya harus memilih satu diantara dua pilihan
karena ujian pada hari yang sama.
Sehari menjelang tes, panitia mengumumkan lokasi ujian dengan
menampilkan nama-nama peserta ujian. Nah…disitulah saya harus memilih dengan
mengkalkulasi jumlah peserta demi merebut kursi PNS pada salah satu formasi dari
dua formasi yang saya pilih. Formasi
guru diikuti sekitar 120- an peserta dan diterima 3 orang, sedangkan formasi
dengan ijazah MIPA murni tanpa akata IV hanya satu orang dan diperebutkan oleh
sekita 40-an peserta. Neuron-neurun mulai bekerja, finally saya memutuskan ” Kali ini saya coba ijazah MIPA plus Akta”
Dengan pertimbangan saran mamak, jumlah
peserta dan siapa tau beruntung meski untuk kali pertama test pakai akta IV
yang baru beberapa bulan sebelumnya saya peroleh dari IAIN Ar Raniry. Oya, ada
yang tertinggal beberapa hari sebelum ujian dan pengumuman lokasi saya harus
mengambil nomor peserta ujian. Saat itu ada beberapa pedagang membuka lapak
menggelar dagangan soal-soal test CPNS tahun-tahun sebelumnya plus pembahasan.
Hatipun tergerak untuk membelinya, buat baca-baca sebagai bentuk ikhtiar demi
kelulusan karena saya tau doa saja tak cukup untuk menggapai sebuah keinginan.
Tibalah hari ujian,
sebelum berangkat saya berpamitan dengan mamak dan mencium tangannya. Saya tau
ada selipan doa di balik tangan yang ia berikan untuk saya. Setibanya di lokasi
ujian, tiada rasa cemas di hati, tetap tenang dan siap menghadapi ujian. Dan
perjuanganpun bermula ketika soal sudah di depan mata, mulailah saya mebuka
halaman pertama dan alangkah terkejutnya saya karena soal kemampuan dasar yang
diujikan hampir 90 persen sama persisi
seperti soal tahun sebelumnya (saya juga ikut test CPNS tahun sebelumnya tapi
kelewatan J)
dan jawabannya sudah cukup hapal karena
saya sudah membaca dan belajar bersama teman satu tim ngajar di LBB
Phi-beta. Alhamdulillah lembar demi lembar begitu lancar saya kerjakan. Oh…ada
harapan kelulusan bisik saya dalam hati.
Setelah ishoma (istirahat salat dan makan)
ujian dilanjutkan untuk uji kemampuan bidang studi, Biologi. Bukannya sombong,
tapi sebagai seorang tentor biologi di bimbel yang bertahun-tahun mengajar
intensif, soal test tersebut tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan soal-soal
SPMB (untuk saat itu ya, kalo sekarang sih
kayaknya sudah sangat jauh menurun
levelnya karena lama banget berpisah dengan soal-soal level tinggi). Harapan kelulusan semakin
yakin adanya, meski pasrah kepadaNya untuk memberikan jalan hidup yang terbaik
tetaplah ada.
Hari berlalu dan
bulanpun berganti, pada akhirnya tibalah masa pengumuman kelulusan CPNS. Usai
salat subuh, sekira pukul enam pagi, tetangga sebelah rumah, bunda Dek Ta yang
juga ikut berkompetisi dalam test CPNS saat itu memberikan informasi dengan
membawa koran Serambi Indonesi, beliau lulus sebagai CPNS di kampungnya serta
memberikan kabar bahwa nama saya juga tercantum di sana. Subhanallah, Walhamdulillah,
Allahu akbar. Hanya itu kata yang pantas dan terucapkan.
Berikutnya, mulailah dering sms dari hp dan
telpon tak henti mendapat ucapan selamat dari kawan-kawan FLP Aceh. Padahal
saat itu, saya belum mengabari mereka tentang lulusnya saya. Tapi dasar anak
FLP itu selalu update berita, jadi
wajar mereka tau tanpa diberi tau J
Yah..setelah sekian lamanya, ikut test
CPNS, akhirnya lulus juga. Lulus sebagai guru. Meskipun bukan cita-cita tapi
ini sudah takdir yang kuasa. Bertahun-tahun ikutan test dengan ijazah MIPA saja
tak pernah berhasil tapi baru
sekali lampirkana ijazah AKTA
eh..langsung lulus. Inillah takdir. Riak hati belum sepenuhnya gembira, tapi
kelulusan ini saya yakini ada hikmahnya. Mungkin inilah doa orang tua berharap
saya bisa bersama mereka dan mungkin
inilah cara Allah menunjukan kuasa bahwa tak sepenuhnya keinginan harus
terpenuhi sesuai impian ada rahasia di balik semua.
Seorang senior di
bimbel tempat saya bekerja memberi nasihatnya “ Mar, jadi guru itu banyak
pahalanya dan akan terus mengalir hingga kita tiada” Seolah beliau tau saya
belum sepenuhnya rela menjadi guru. Nasihat itu selalu saya ingat dan mengobati
luka gagalnya cita-cita yang tersemat dalam dada pasca tamat SMA.
Saat ini, delapan tahun
sudah saya mengabdi pada sebuah sekolah di pesisir negeri. Ada banyak hal
yang saya pelajari. Tak perlu ungkit
perih hempasnya mimpi. Menjalani hari-hari bersama mereka para siswa yang
menunggu keikhlasan saya berbagi ilmu, berbagi gembira dan duka cita. Allah tau
apa yang terbaik untuk hamba-Nya.
Awalnya memang sulit
beradaptasi, bergelut dengan siswa SMP yang sifatnya masih terbawa sifat siswa
SD sementara usai tamat kuliah saya
mengajar di bimbel dan mahasiswa. Kalaupun di bimbel mengajar tingkat SD dan SMP jauh beda dengan ngajar di sekolahan. Namun
akhirnya perlahan saya mulai belajar menghadapi siswa dengan beragam gaya dan
sifatnya. Lelah,sudah tentu tapi harus belajar
Sejak bapak saya terbaring tanpa daya karena
strokenya, Allah memberi saya peluang merawatnya. Bayangkan, jika saja saya tak
lulus di sini, tak ada kesempatan saya berbakti pada orang tua yang telah
bersusah payah demi gelar sarjana yang sudah saya miliki. Inilah yang terbaik.
Kadang, teringat kembali dialog pantaskah diri menjadi guru. Sampai saat ini
saya masih harus memperbaiki diri memantaskan diri menjadi guru. Sadar,
saya belumlah diakui oleh pemerintah
sebagai guru profesional. Namun demikian, saya tak ingin sekedar diakui. Teringat
akan nasihat Aa Gym, dalam berbuat yang terpenting adalah dilihat oleh Allah.
Bukan yang lain. Menjadi seperti jam dinding yang terus berputar tanpa berhenti
hingga saatnya ia akan mati.
Komentar
Posting Komentar